Tentang Mlangi

Asal usul atau cikal bakal pendirian dusun Mlangi dapat dikatakan dari legenda atau cerita rakyat setempat yang sudah dianggap kejadian sungguh-sungguh pernah terjadi. Cikal bakal dusun ini adalah dari Kyai Nur Iman, dan untuk mengenang beliau maka setiap tanggal 14 Sura (Muharram) diadakan acara “Khaul”.

Konon, menurut buku kecil Sejarah Kyai Nur Iman yagn selalu diterbitkan setiap ada acara “Khaul”, Kyai Nur Iman adalah seorang ulama, beliau adalah putra dari RP. Suryo Putro yang merupakan putra sulung dari Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I. pada saat terjadi pecahperang saudara tahun 1745 di kalangan Kraton Kartosuro dan kemudian muncul adanya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang menimbulkan dibaginya Kraton Kartosuro menjadi 2 yaitu Kasunanan Surakarto dan Kasultanan Ngayogyakarto. RM Sandiyo/Ihksan pada perang tersebut dapat meloloskan diri lalu pergi merantau ke arah barat dan berperan sebagai seorang ulama. Setelah perang saudara selesai ada upaya untuk mencari RM. Sandiyo, setelah ditemukan diajak kembali ke kraton fan disuruh memilih di Yogyakarta atau di Surakarta. Dengan hati ikhlas beliau memilih untuk tinggal di Yogyakarta tetapi di luar kraton. Setelah memperolehtempat seluas sejauh bunyi bedug maka Kyai Nur Iman bertempat tinggal di situ dan mendirikan tempat Pemulangan (pengajaran) bagi para santri. Pemulangan berarti tempat untuk member pelajaran atau “Mulangi” kemudian untuk lebih mudahnya diucapkan “Mlangi”.

Sejarah

Menelusuri jejak sejarah Mbah Kyai Nur Iman, tidak dapat di lepaskan dari awal mula keberadaan dusun mlangi.untuk itu kita perlu mengetahui sejarah berdirinya Dusun / Kampung Mlangi, ini berarti kita pun sekilas perlu menengok kembali Sejarah Kerajaan Mataram / Babad Tanah Mataram.

Masjid Pathok Negoro Mlangi
Pada waktu itu di Kerajaan Mataram yang beribukotakan Kartosuro, banyak diwarnai sengketa diantara para pangeran, terutama masalah yang menyangkut suksesi. Walaupun raja yang sedang memerintah telah mentiapkan penggantinya, namu setelah Raja mangkat, pergantian tahta sering berlangsung tidak mulus. Apalagi ditambah politik penjajah Belanda yang licik dan jahat, seringkali mengadu domba keluarga Raja termasuk para pangeran, yang akhirnya menjadi terpecah belah.Pertentangan di dalam Keluarga Kerajaan Mataram setelah sunan / Susuhan / AMangkurat II surut / meninggal pada tahun 1703, memberi peluang bagi VOC untuk mencampuri urusan kerajaan. Dengan maksud memecah belah, Belanda membantu Pangeran Puger, adik Amangkurat II untuk merebut tahta menghadapi Sunan Mas, Putra Amangkurat II yang menjadi Amangkurat III.

Kompeni Belanda mengangkat pangeran Puger menjadi Paja dengan gelar Susuhunan Paku Buwono 1. Pada waktu itulah seorang Pangeran yang bernama R.M. Suryo Putro yang merasa sangat sakit hati atas peristiwa itu, sehingga memutuskan untuk pergi keluar Kraton menuju ke arah Timur / Brang Wetan.

Dalam perjalanannya paneran Suryo Putro / R. M. Suryo Putro sampai di Surabaya. Di sana ada satu kampung yang bernama kampung Gedangan. Secara kebetulan di kampung tersebut ada sebuah Pondok Pesantren namanya Pondok Pesantren Gedangan. Pengasuh Pondok Pesantren Gedangan saat itu adalah Kyai Abdullah Muhsin.

Singkat cerita, R. M. Suryo Putro akhirnya menjadi santri di Pondok Pesantren tersebut dan berganti nama M. Ihsan.

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan di pondok pesantren Gedangan setiap 35 hari sekali (selapan dina) adalah pengajian umum.

Tidak terduga, suatu saat, ketika Kyai Abdullah Muhsin mengadakan pengajian lapanan, dating berkunjung seorang pejbat negara. Beliau adalah Adipati Pasuruhan yang bernama Adopati Wironegoro. Adipati Wironegoro meripakan gelar yang diberikan Raja Mataram Kartosuro / Amangkurat II kepada Untung Suropati. Gelar tersebut diberikan sesuai dangan jabatannya sebagai Adipati Pasuruhan, berkat keberhasilan Untung Suropati membunuh pimpinan Kompeni Belanda yang bernama Kapten Tok.

Gapura Masjid jami’ Mlangi

Kehadiran seorang pejabat negara di acara pengajian yang diadakan oleh Pondok Pesantren yang diasuhnya, tentu saja membuat Kyai Abdullah Muhsin merasa senang dan menyambutnya penuh kehormatan. Kebetulan yang menyajikan hidangan untuk para tamu tersebut adalah santri–santri pondok, termasuk M. Ihsan sebagai pimpinan.

Pada waktu Ihsan mondar-mandir di muka tempat duduk Kanjeng Adipati guna menyajkan hidangan, ternyata Kanjeng Adipati mengamatinya dengan seksama. Hal ini karena beliau merasa sudah pernah bertamu, dan beliau yakin sekali kalau santri itu adalah seorang bangsawan.

Setelah pengajian tersebut selesai, Kanjeng Adipati tidak segera pulang, tetapi justru meminta kepada Kyai Abdullah Muhsin supaya memanggil santrinya yang diduganya sebagai bangsawan tadi. Demi penghormatan terhadap pejabat negara, maka Kyai Abdullah Muhsin, segera memanggil santrinya yang bernama Ihsan. Dalam benak sang Kyai bertanya-tanya apakah sebabnya Kanjeng Adipati ingin sekali bertamu dengan santrinya itu.

Tidak berapa lama kemudaian, M. Ihsan yang berwajah tampan dan santun itupun menghadap Kanjeng Adipati Wirlonegoro. Setelah bersalam-salaman baik Kanjeng Adipati Wironegoro maupun M.Ichsan atau R.M. Suryo Putro saling meyakini dan tidak lupa bahwa mereka sudah saling mengenal sebelumnya.

Kepada Kyai Abdullah Muhsin, kedua Priyogung itu meminta untuk merahasiakan pertemuan tersebut dan tetap menganggap pangeran R.M.Suryo Putro sebagai santri biasa, jangan sampai ketahuan kalau beliau adalah seorang bangsawan. Sambil pamitan pulang Kanjeng Adipati memohon dengan hormat kepada pangeran untuk sudi berkunjung ke Kadipaten dengan menyamar, yang segera disanggupi oleh Pangeran.

Pada suatu saat, Pangeran berkesempatan berkunjung ke Kadipaten untuk menyampaikan pesan yang isinya, jangan sampai keberadaan beliau di Pondok Pesantern Gedangan diketahui oleh keluarga / kerabat Kraton.

Selama berkunjung di Kadipaten Pasuruhan, Pangeran dijamu secara baik dan dikenalkan dengan semua keluarga Adipati Wironegoro termasuk putrinya yang bernama R.A.Retno Susilowati.

Dari waktu berganti waktu, dengan pertimbangan yang sangat matang antara Kanjeng Adipati Wironegoro, Kyai Abdullah Muhsin dan Pangeran R.M. Suryo Putro atau M.Ihsan, diambillah keputusan untuk menikahkan Pangeran R.M. Suryo Putro dengan putri Kanjeng Adipati yaitu R.A. Retno Susilowati. Kemudian setelah pernikahan tersebut, R.A. Susilowati pun diboyong ke Pondok Pesantren Gedangan untuk sementara waktu.

Sementara itu, selama ditinggal pergi oleh R.M. Suryo Putro, keadaan Kerajaan Mataram semakin tidak menentu. Hal ini dipicu oleh akal licik Belanda yang mengangkat / mengganti Raja dengan maksud menimbulkan konflik internal diantara para Pangeran sehingga timbul perpecahan diantara mereka Pada saat masa keprihatinan tersebut, Raja mendapat kabar dari telik sandi bahwa Pangeran Suryo Putro berada di Surabaya berguru di Pondok Pesantern Gedangan yang diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin.

Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk menjemput sang Pangeran kembali ke Mataram Kartosuro. Karena hal itu merupakan perintah Raja, Sang Pangeran tidak dapat mengelak lagi. Sementara itu istri Pangeran yang sedang hamil dititipkan kepada Kyai Abdullah Muhsin. Pangeran berpesan bahwa apabila istrinya melahirkan, jika yang terlahir adalah bayi laki-laki diberi nama R.M. Sandiyo, namun bila perempuan, pemberian namanya diserahkan Kyai Abdullah Muhsin.

Pangeran juga meminta pada Kyai Abdullah Muhsin, agar mendidik anak tersebut sampai menguasai ilmu agama secara sempurna. Dan setelah dewasa sang anak akan dijemput untuk pulang ke Mataram Kartosuro.

Setibanya di Mataram Kartosuro, sang Pangeran langsung dinobatkan menjadi raja dengan gelar Susuhunan Amangkurat Jawi / Amangkurat IV. Kanjeng Susuhunan Amangkurat IV memerintah kurang lebih pada tahun 1719-1726. Sebelum meningal, beliau teringat pernah menitipkan istri yang bernama R.A. Retno Susilowati yang ketika ditinggal sedang hamil. Mengingat hal itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, diperkirakan bayi tersebut sudah tumbuh dewasa.

2. Perjalanan R.M.Sandiyo (M. Nur Iman) ke Mataram Kartosuro

Sang Raja kemudian memberi perintah kepada punggawa Kraton untuk menjemput putranya dan mengajaknya kembali ke Kraton Kartosuro agar dapat berkumpul dengan keluarga / kerabatnya, termasuk para Pangeran.

Adapun putra Raja yang lahir di Pondok Pesantren Gedangan tersebut telah tumbuh menjadi Priya yang gagah dan tampan. Sesuai amanat Ayahandanya, ia diberi nama R.M. Sandiyo. Selain itu, Kyai Abdullah Muhsin juga memberinya nama yaitu M. Nur Iman.

Nama ini sesuai dengan tindak tanduknya yang arif dan bijak selama menjadi santri.M. Nur Iman yang telah menguasai ilmu agama secara sempurna memang sangat didambakan oleh Kyai Abdullah Muhsin, karena amal ilmunya yang tinggi serta kesolehannya. Sang Kyai pun yakin bahwa setelah dewasa M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar yang masyhur.

Pada waktu utsan sang Raja tiba untuk menjemput dirinya, R.M. Sandiyo atau Nur Iman bersedia pulang ke Mataram Kartosuro asalkan keberangkatannya tidak bersama-sama dengan utusan sang Raja. Setelah pamit dan minta do’a restu pada sang guru, R.M. Sandiyo atau M. Nur Iman berangkat menuju Mataram Kartosuro dengan ditemani 2 orang sahabat yang dikasihi dan dicintainya yaitu Sanusi dan Tanmisani.

Sang Kyai berpesan agar M. Nur Iman tidak melupakan visi dan misinya sebagai seorang ulama, yaitu menyampaiakan amar ma’ruf nahi munkar, kapan dan dimana saja. Juga untuk berjuang menegakkan kebenaran Islam serta mendirikan Pondok Pesantren dimana ia bertempat tinggal. Dalam perjalanannya menuju kearah barat, M. Nur Iman beserta kedua temannya sekaligus melakukan dakwah demi berkembangnya agama Islam. Dari kampung ke kampung, dari desa ke desa hingga di setiap kota yang dilalui, M. Nur iman beserta kedua temanyya senantiasa berdakwah, bahkan berhasil mendirikan Pindok Pesantren. Sebur saja misalnya Pondo Pesantren yang ada di sepanjang Ponorogo dan Pacitan.

Sehingga perjalanan ini memakan waktu hingga beberapa tahun. Setelah sekian lama menempuh perjalanan, M. Nur Iman dan kedua temannya akhirnya sampai di kerajaan Mataram Kaeta suro dan langsung menghadap / sungkem pada Ayahandanya, Kanjeng Susuhan Amangkurat 1V.

 Masjid Jami’ Mlangi

Pada pertemuan itu, selain bertemu dengan saudarasaudaranya, termasuk para pengeran, M. Nur Iman mendapat gelar, B. P. H. (Bendoro Pangeran Hangabei). Sel;ain itu M. Nur Iman juga mendapat rumah kediamannya di Sukowati.

3. Perjanjian Giyanti

Kondisi Krato yang dilannda perpecahan akibat campur tangan Kompeni Belanda, yang membantu susuhunan pakubuwono 111, membuat R. M. Sandiyo / Kyai Nur Imasn prihatin. Hinnga akhirnya terjadilah perang saudara, diman dalam perang ini ada dua pangeran yang bersekutu, yaitu Pangeran Sambar Njowo / R. M. said dengan Pangeran Mangkubumi / R. M. Sujono.

Keadaan seoerti ini masih diperkeruh lagi dengan adanya huru-hara antara bangsa Tionghoa dengan Kompeni Belanda yang sering disebut Geger Pecinan. Pereng yang sangat melelahkan dan menghabuskan biaya / dana terlalu banyak tesebut akhirnya bisa diakhiri, dengan adanya perjanjian perdamaian antara pihak-pihak yang bertikai. Perjanjian perdamaian tersebut terjadi kurang lebih pada tahun 1755 di desa GIyanti, sehngga perjanjian itupun diberi nama Prjanjian Giyanti. Isi dari Perjanjian Giyanti antara lain :

1. Kerajaan Mataram Kartosuro didagi menjadi dua :

Dari Prambanan ke timur menjadi milik Susuhunan Pakubuwono 111, beribukota di Surokarto.
Dari Prambanan ke barat dengan ibukota Yogyakarta , menjadi milik Pangeran Mangkubui yang kemudian bergelar Sultan Hamenku Buwono I .

2. Pangeran Sambar Njowo / R. M. Said diberi kedudukasn sebagai Adipati denagn gelar Adipati Mangkunegoro I dan diperbolehkan mendirikan sebuah Puro. Puro tersebut diberi nama Puro Mangkunegoro.

Adanya Perjanjian Giyanti ini ternyata dapat meredakan ketegangan yang terjadi antara Mataram Surokarto dengan Mataram Yogyakarta ditambah Puro Mangkunegoro, sehingga suasana pun menjadi tenteram. Dalam keadaan tenteram inilah, kedua Raja menjadi teringat bahwa mereka masih mempunyai saudara yang bernama BPH Sandiyo / Kyai Nur Iman. Kemudian masing- masing Raja memerintahkan prajuritnya untuk mencari tahu keberadaan BPH. Sandiyo / Kyai Nur Iman.

4. Asal-usul Nama Mlangi

Sementara itu, BPH. Sandiyo / Kyai Nur Iman, pada waktu perang saudara berkecamuk justru memutuskan untuk pergi keluar benteng Kraton beserta kedua teman akrabnya, Sanusi dan Tanmisani.

Dengan semangat tinggi dan kemauan keras, Kyai Nur Iman dan kedua temannya melakukan perjalanan, melaksanakan da’wah mengembangkan agama Islam.Mereka juga menanamkan jiwa patriotisme guna menimbulkan rasa benci masyarakat terhadap kaum penjajah yaitu Kompeni Belanda. Perjuangan dan seruan BPH. Sandiyo / Kyai Nur Iman bersama kedua temannya ternyata disambut rakyat dengan sepenuh hati, sehingga agama Islam pun berkembang dengan pesat.

Dari arah Kartosuro ke Barat, sampailah perjalanan Kyai Nur Iman dan kedua temannya itu di suatu daerah di Kulon Progo. Kedatangannya diterima dengan senang hati oleh seorang Demang yang bernama Hadi Wongso. Demang Hadi Wongso adalah penguasa deda Gelugu, yang kemudian bersama keluarganya bersedia memeluk agama Islam. Tak lama berselang, setelah demang Hadi wonso memahami bahwa Kyai Nur Iman nyata-nyata adalah Ulama Besar.

Dia memohon dengan hormat agar Kyai Nur Iman bersedia menikah dengan putrinya yang bernama Mur Salah. Begitu juga dengan kedua pendereknya, Sanusi dinikahkan dengan Maemunah, sementara Tanmisani menikah dengan Romlah. SEtelah Demang Hadi Wongso meninggal dunia, Kyai Nur Iman sekeluarga pindah tempat ke utara, disebelah timur Kali Progo, yaitu desa Kerisan. Di desa yang masuk wilayah Yogyakarta inilah Kyai Nur Iman bertemu dengan utusan Sultan Hamenku Buwono 1, yang kemudian meminta beliau untuk kembali ke Kraton.

Masjid Jami’ Mlangi Tampak Depan

Pada tahun 1976, Jumenengan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kaneng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alogo Khalifatullah Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo ingkang Jumeneng Sepisan. Orang umum lebih mengenal dengan sebutan Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Atas kebijaksanaan Raja, beliau memberikan hadiah berupa tanah perdikan kepada saudara tertuanya, yaitu BPH. Sandiyo / Kyai Nur Iman. Oleh Kyai Nur Iman, tanah perdikan tersebut dijadikan kampung / desa tempat pendidikan dan pengembangan agama Islam. Tidak lama kemudian di tempat itu berdirilah rumah yang dipetrgunakan untuk memberi pelajaran (Mulangi) agama. Atau istilah sekarang disebut Pondok Pesantren. Dari asal kata MULANGI inilah kemudian menjadi nama kampung /dusun MLANGI.

5. Pembangunan Masjid Patok Negoro di Mlangi.

Zaman pemerinthan Sru\i Sulatn Hamengku Buwono I merupakan masa kejayaan Yogyakarta Hadiningrat. Dalam bahasa pewayangan, Ki Dalang biasa menyebutnya sebagai negara yang gemah ripah pasi wukir tata raharjo loh jinawi. Kehidupan agama dan seni budaya berkembang pesat. Setelah wafat, Sri Sultan Hamengku Buwono I digantikan putranya yang pada waktu muda nernam R. M. Sundoro, dengan gelar Sultan Hamengku Buwono II. Beliau sangat nasionalis, cinta kepada negaranya dan bersedia berkorban bagi kepentingan rakyatnya. Lebih-lebih mengeb\nai perkembangan agama, sangat diperhatikan, hal ini telihat dari eratnya hubungan antara ulama dengan umaro.

Ziarah Ke Makam Simbah Kyai Nur Iman

Di masa pemerintahannya, Sultan Hamengku Buwono II menerima arahan dari Kyai Nur Iman, yang masih ada hubungan keluarga, untuk membangun empat Masjid besar. Guna melengkapi dan mendampingi Masjid yang sudah berdiri lebih dulu, yaitu Masjid di Kampung Kauman, disamping Kraton. Masjid yang disarankan oleh Kyai Nur Iman untuk dibangun terletak di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari / Patok Negoro :

Di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi
Di sebelah Timur terletk di desa Babadan
Di sebelah Utara terletek di desa Ploso Kuning
Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan

Adapun yang mengurusi Masjid-Masjid Tersebut adalah putra-putra dari Kyai Nur Iman :

Masjid Patok Negoro Ploso Kuning diurus oleh Kyai Mursodo
Masjid Patok Negoro Babadan diurus oleh Kyai Ageng Karang Besari
Masjid Patok Negoro Dongkelan dirus oleh Kyai Hasan Besari
Masjid Patok Negoro Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman.

Besarnya kepedulian Sri Sultan Hamenku Buwono II untuk mendirikan masjid didesa-desa, membuat Masjid-Masjid tersebut dikenal sebagai masjid Kagungan Ndalem atau Masjid Kasultanan, dikarenakan kepengurusan / Takmir Masjid termasuk abdi Ndalem Kraton. Pada tahun 1953, oleh Ngarso Ndalem Masjid Mlangi diserahkan kepada rakyat yang diberi nama Masjid Jami’ Mlangi.Serah terima Masjid diwakili oleh alim ilama dan tokoh masyarakat, antara lain ;

1. Kyai Siruddin
2. Kyai Masduki
3. M. Ngasim

Sekilas Perang Diponegoro

Sesuai dengan amanat Ayahandanya, Yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II atau Sultan Sepuh, Sultan Hamengku Buwono III melakukan perlawanan terhadap penjajah. Sikap nasionalis dan patriotis juga beliau wariskan kepada putranya yaitu Kanjeng Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasionalis legendaris yang populer hingga saat ini. Dengan jiwa keberanian menentang kaum penjajah, ditambah adanya keyakinan bahwa dalam ajaran Islam, perang dalam rangka membela kebenaran dan keadilan demi tegaknya agama Allah adalah Jihad Fii Sabiilillah.

 Simbah Kyai Masduqi

Keyakinan ini tampak dari pakaian yang dikenakan oleh Pangeran Diponegoro yang berserban dan berjubah, sebagaimana pakaian seorang ulama / auliya’. Perang Diponegoro sendiri terjadi pada tahun 1825-1830.

Perang Diponegoro inipun ikut melibatkan anak cucu Mbah Kyai Nur Iman. Hal ini sesuai dengan semangat patriotisme dan amanat Beliau kepada anak cucunya untuk selalu menentang kaum penjajah, menegakkan kebenaran dan keadilan serta untuk selalu berjihad dijalan Allah demi tegaknya agama Islam.

KH.Muchtar Dawam

Bahkan dalam peperangan, salah seorang putra Mbah KYai Nur Iman yang bernama Kyai Salim, gugur di desa Ndimoyo. Kyai Salim yang gugur inipun dikenal dengan nama Kyai Syahid, karena dalam Islam seorang yang berjihad apabila gugur disebut mati Syahid.

Belanda mengakhiri Perang Diponegoro dengan cara yang licik. Dengan tipu muslihat Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro di Magelang. Pada waktu Kanjeng Pangeran Diponegoro ditangkap, ada seorang prajurit yang menjadi pengawal pribadi Pangeran Diponegoro yang juga ikut ditangkap, yaitu Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari ini merupakan salah seorang putra Mbah Kyai Nur Iman. Mereka ditangkap dan diasingkan ke Manado.

Meninggalnya Mbah Kyai Nur Iman Setelah Perang Diponegoro berakhir, Kompeni Belanda berani menghadap Sultan Hamengku Buwono III. Mereka membujuk dan memutarbalikkan fakta, bahwa Pangeran Diponegoro dan seluruh pengikutnya adalah pemberontak. Hal ini membuat prajurit dan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang masih tersisa, termasuk putro wayah Mbah KYai Nur Iman tidak berani kembali ke desa asalnya, karena takut ditangkap oleh Kompeni Belanda. Dimana para pengikut dan prajurit itu mendapat tempat yang aman, disitulah mereka bermukim. Sehingga secara tidak langsung terjdi penyebaran penduduk dan agama. Kejadian ini juga menjadikan keturunan Mbah Kyai Nur Iman tersebar tidak hanya di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tapi juga yang ada di Jawa Barat dan Jawa Timur bahkan ada yang di luar jawa.

KH.Salimi Pengasuh PP As=-Salimiyyah

Sementara itu, Mbah Kyai Nur Iman sendiri memilih bertempat tinggal di dusun Mlangi hingga akhir hayatnya, tepatnya disebelah barat Masjid Mlangi. Setelah meninggal, Mbah Kyai Nur Iman dimakamkan di belakang Masjid. Makam tersehbut dinamakan Makam Pangeran Bei / Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehinnga gapura masuk kompleks Pesareyanpun berciri khas Kraton.

Dan sebagaiman makam para Auliya’ dan Ulama Besar yang lain, Makam Mbah Kyai Nur Iman juga banyak dikunjungi tamu-tamu yang berziarah dari luar daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa. Para Peziarah ada yang perorangan maupun berombongan.

Para Kyai Khusuk Saat Sedang Menghadiri Acara Khataman

Mbah Kyai Nur Iman Meninggalkan 14 Putra dan 4 Istri :

Dari istri I, Beliau meninggalkan 9 orang putra dan putri, yaitu:
1. Kyai Mursodo 4. R.M.Taftoyani 7. Kyai Muhsin Besari
2. Kyai Nawawi 5. Kyai Mansur 8. Kyai Musa
3. Nyai Safangatun 6. Nyai Murfakiyyah 9. Nyai Karang Mas

Dari istri II, Beliau meninggalkan 3 orang putra dan putri, yaitu:
1. Nyai Soleh
2. Kyai Salim
3. Nyai Jaelani

Dari istri III, Beliau meninggalkan 2 orang putri, yaitu:
1.Nyai Abu Tohir
2.Nyai Mas Tumenggung

Dari istri IV, Beliau meninggalkan 1 orang putra, yaitu:
1.Kyai Rofingi (R.M. Mansjur Muhyidin-Kyai Giru Loning)

Di antara putra-putri Mbah Kyai Nur Iman ada yang diangkat sebagai Bupati Sempon / Kedu, yaitu Kyai Taftoyani. Ada pula yang sebagai Penghulu Kraton, yaitu Kyai Nawawi.