Budaya dan tradisi penduduk Mlangi dan keturunannya, tidak terlepas dari hasil dakwah Mbah Nur Iman dan anak cucunya, dimana mereka mempunyai pengaruh di masyarakat. Di antara mereka bahkan sudah mendirikan pondok pesantren yang menerima santri dari berbagai pelosok Nusantara.

Pondok Pesantren di Mlangi

KH. Suja’i Masduqi Pengasuh PP. As-Salafiyyah

Hingga saat ini, seiring dengan majunya zaman dan berkembangnya dunia pendidikan, di dusun Mlangi telah tumbuh beberapa Pondok Pesantren, di antaranya :

1. PP. Al-Miftah yang diasuh oleh Kyai Siruddin diteruskan oleh KH. Munahar.
2. PP. As-Salafiyyah yang diasuh oleh Kyai Masduqi diteruskan oleh KH. Suja’I Masduqi.
3. PP. Al-Falahiyyah yang diasuh oleh KH. Zamrudin diteruskan oleh Ny. Hj. Zamrudin.
4. PP. Al-Huda yang diasuh oleh KH. Muchtar Dawam.
5. PP. Mlangi Timur yang diasuh oleh KH. Wafirudin diteruskan oleh Ny. Hj. Wafirudin.
6. PP. Hujjatul Islam yang diasuh oleh KH. Qothrul Aziz.
7. PP. As-Salimiyyah yang diasuh oleh KH. Salimi.
8. PP. An-Nasyath yang diasuh oleh KH. Sami’an.
9. PP. Ar-Risalah yang diasuh oleh KH. Abdullah.
10. PP. Hidayatul Mubtadiin yang diasuh oleh KH. Nur Iman Muqim.

Adapun Pondok Pesantren yang ada diluar daerah Yogyakarta yang ternyata masih keturunan Mbah Kyai Nur Iman, antara lain:

1. PP. Watu Congol, Muntilan yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul Haq.
2. PP. Tegalrejo, Magelang yang diasuh oleh KH. Abdurrahman Khudlori.
3. PP. Al-Asy’ariyyah, Kalibeber Wonosobo yang diasuh oleh KH. Muntaha.
4. PP. An-Nawawi, Berjan Purworejo yang diasuh oleh KH. Khalwani.
5. PP. Bambu Runcing, Parakan Temanggung yang diasuh oleh KH. Muhaiminan.
6. PP. Secang, Sempu, Magelang yang diasuh oleh KH. Ismail Ali.
7. PP. Nurul Iman, Jambi yang diasuh oleh KH.Sohib dan Ny. Hj. Bahriyah.

Selain itu, Mbah Kyai Nur Iman juga menulis 2 buah karya ilmiah, yaitu :
1. Kitab Taqwim (Ringkasan Ilmu Nahwu)
2. Kitab Ilmu Sorof (Ringkasan Ilmu Sorof)

Tradisi agamis dan amalan yang masih dilestarikan hingga saat ini, antara lain :
1. Ziaroh / ngirim Ahli Qubur dengan cara membaca tahlil dan Al- Qur’an Surat Al-Ikhlas, dan lain-lain.
2. Membaca Sholawat Tunjina (untuk memohon keselamatan di dalam hajatan-hajatan).
3. Membaca sholawat Nariyah (untuk selamatan orang hajat seperti orang hamil, dan lain-lain).
4. Membaca Kalimah Thoyyibah, Tahlil Pitung Lekso (Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad).
5. Manaqiban / Abdul Qodiran.
6. Dalam bentuk kesenian :
– Ngelik
– Barzanji / Rodatan
– Sholawatan / Kojan dan lain-lain.

Untuk menghormati dan mengenang sejarah perjuangan Mbah Kyai Nur Iman, para alim ulama dan tokoh masyarakat sepakat mengadakan Khaul, yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro malam tanggal 15. Adapun pelaksana penyelenggaraan acara Khaul Mbah Kyai Nur Iman adalah KH. Abdullah, Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Risalah dengan didukung sepenuhnya oleh masyarakat Mlangi.

 KH. Nur Iman Muqim Pengasuh PP Hidayatul Mubtadien

Demikianlah sejarah singkat Mbah Kyai Nur Iman atau BPH. Sandiyo, seorang ulama / Auliya’, sekaligus juga seorang bangsawan dan cikal bakal pendiri dusun Mlangi. Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat bagi siapa saja, setidaknya sebagai dokumentasi serta sumbangan wawasan dan khazanah pengetahuan, khususnya bagi yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan tokoh Islam di Pualu Jawa. Namun

Rebana Mlangi
demikian, mengingat keterbatasan sumber-sumber yang dapat dijadikan rujukan, baik yang tertulis maupun berupa riwayat-riwayat dan bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan, maka tidak menutup kemungkinan adanya kekeliruan atau hal-hal penting yang tidak tercantum dalam penulisan sejarah singkat ini. Untuk itu kami senantiasa mengharapkan sumbang saran dan masukan dari siapa saja yang tentunya akan sangat berguna bagi kelengkapan sejarah milik kita bersama ini.